CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 21 Juli 2012

tanpa juduL...


Pagi itu suasana di kelas begitu sunyi dengan suasana tenang. Sorotan matahari yang baru terbit menembus celah-celah penutup jendela di ruangan itu. Masih terlihat mahasiswa/I yang datang terlambat ketika kuliah akan segera dimulai. Ada yang datang dari pagi,bahkan mungkin sebelum pintu kelas dibuka mereka sudah menunggu didepan kelas. Namun dosen tidak memperdulikan akan hal itu karena setiap dosen memberikan peraturan yang berbeda di dalam proses mengajar. Pagi itu seperti biasanya aku selalu duduk dalam posisi paling depan, karena menurutku posisi itu lebih baik untuk mengerti dan mudah untuk memahami tentang apa yang akan diterangkan oleh dosen. Ruang kelas cukup luas untuk menampung enam puluh orang mahasiswa namun pagi itu kelas hening karena tidak semua mahasiswa hadir dalam mata kuliah tersebut. Mata kuliah yang tidak semua anak dikelas menyukainya, tetapi ada yang menarik dalam fenomena anak sekolah sekarang yang setiap hari membuatku berfikir, “kenapa ya mahasiswa/I jaman sekarang tidak mengunggulkan pengetahuan dan pemahaman tentang apa yang dipelajari selama kuliah tetapi mereka hanya datang dan pergi kuliah serta mendapat nilai atau IPK bagus dengan menghalalkan segala cara?” memang sunnguh miris keadaan dan system pendidikan di Indonesia jaman sekarang ini. Walaupun sisitem pendidikanya sudah diperbaiki secara maksimal , kalau tidak ada kerjasama serta kesadaran dari pihak mahasiswa sendiri mana mungkin system pendidikan yang baik akan berjalan dengan optimal?
Hari berlalu,minggu berlalu,serta bulan berlalu hingga pada saatnya Ujian Tengah Semester (UTS) tiba. Mahasiswa bingung mencari bahan-bahan UTS yang belum lengkap. Ada yang belajar semaksimal mungkin ada yang santai dengan harapan mendapat bantuan dari teman yang belajar,dan ada pula hal yang aku benci yang mereka lakukan. Membawa catatan kecil untuk membantu mereka yang tidak belajar sebelum UTS. Kenapa hal tersebut harus mereka lakukan demi mendapatkan nilai bagus? Bahkan saya sendiri sebagai mahasiswi yang merasa mempunyai kemampuan pas-pasan sedikitpun tidak ada niatan untuk mencontek. Bagaimana Negara ini akan maju kalau dari system pendidikan saja banyak terjadi kecurangan seperti itu? Ujianpun tiba,mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat duduk paling belakang saat ujian dilaksanakan,agar mereka lebih leluasa dalam menjalankan trik yang mereka buat saat mengerjakan soal-soal ujian. Ada beberapa mahasiswa yang saya lihat mereka jujur 100% tanpa mencontek dan bertanya ,ada yang bertanya kepada teman sebelahnya, dan ada pula yang was-was melihat pengawas sambil melihat contekan yang mereka buat. Memang dalam hati aku menggumam “mereka curang banget sih,yang jujur ya jujur, yang nyontek seenaknya ajah” bukan saya iri tapi saya kadang membayangkan tentang apa yang mereka lakukan saat inikan cerminan masa depan mereka jadi buat apa saya iri toh masa depan orang yang curang seperti mereka tidak jauh halnya dengan koruptor seperti Nazarudin yang tersangkut kasus wisma atlit, kemudian Artalita Suryani kasus penggelapan uang dan masih banyak lagi kasus-kasus korupsi di negeri tercinta ini yang sampai saat ini tidak pernah ada ujungnya. Ya sudahlah lupakan saja hal itu, mungkin pihak-pihak yang mengurusi tentang hal tersebut punya alasan lain mengapa kasus seperti ini selalu diperpanjang dan tidak pernah berujung kepastian.
UTS (Ujian Tengah Semester) pun berlalu ,mahasiswa deg-degkan karena menanti hasil nilai Ujian minggu lalu yang telah selesai dilaksanakan. Mahasiswapun berkerumun seperti semut mengerumuni gula dimanapun mereka berada. Mereka berkerumun atau berkumpul di Loby tempat papan hasil Ujian dipasang. Memang begitu berisik karena sejumlah mahasiswa saling berebut mencari nama mereka dan melihat hasil ujian dari jerih payah mereka dalam mengerjakan UTS. Rata-rata semua pada senang karena mendapat nilai yang memuaskan ,ada pula yang mendapat nilai pas-pasan dan adapula yang mendapat nilai dibawah rata-rata. Dan saya cukup puas dengan apa yang saya dapatkan.walaupun nilai tidak terlalu bagus, namun juga tidak terlalu jelek. Dan yang membuat diriku bangga serta mempunyai kepuasan tersendiri yaitu aku mengerjakan dan mendapatkan hasil dari pekerjaanku dengan cara dan kemampuanku sendiri serta tak pernah lepas dari kejujuran. Mungkin aku bisa mencontek pada saat ujian, tetapi aku hidup dalam keluarga yang dibangun dan dibentuk atas dasar disiplin,jujur,dan tanggung jawab, jadi apa yang aku lakukan harus dilandasi dengan tiga dasar tersebut. Karena kalau masalah nilai ujian walaupun aku dapat nol sekalipun kalau memang itu karena kejujuran aku berani mempertanggung jawabkan pada saat disidang di depan keluarga kenapa nilai aku nol. Tapi na’udzubilah aku ga pernah dan tidak akan pernah mendapatkan nilai seperti itu.
Semester ganjilpun berlalu dan kini menginjakan semester baru yaitu semester genap. Tanpa libur seperti halnya waktu SMA setelah ujian kami mahasiswa kembali belajar untuk mengikuti mata kuliah baru dari semester sebelumnya. Suasana di kelasku ini mungkin cukup nyaman dari awal saya memasuki kampus ini namun ,semakin hari berlalu ,dan bulan berlalu, saya semakin tidak nyaman dengan suasana di kelas ini, mungkin karena saya belum membiasakan diri dengan sifat teman-teman di bangku kuliah ini. Dan sayapun menyadari bahwa belum tentu semua rekan bangku kuliah saya menerima bagaimana sifat saya, jadi saya harus mengandalkan prinsipku yaitu “Sedikit Bicara Banyak Diam” . saya tidak terlalu suka dengan rekan saya yang bicaranya tinggi,mungkin karena mereka dari kalangan atas jadi gaya bahasa mereka kasar dan menurutku tidak cocok untuk gaya bahasa anak kuliahan, masih mending kalau bahasanya gue-gue lo-lo tapi itu bahasa binatang. Memang sudah tidak aneh jaman sekarang bukanya membudidayakan bahasa Indonesia yang baik dan benar malah di tambah-tambah dengan bahasa kebun binatang. Mungkin kira-kira ada 40 mahasiswa/i jumlah yang ada di absen kelas saya, namun tidak setiap hari absen tersebut penuh, ya mungkin mereka yang tidak masuk mempunyai alasan tersendiri mengapa tidak mengikuti kuliah. Ada juga yang tidak masuk tetapi hanya menitip absen ke teman terdekatnya, dan itu menurut saya bukanlah hal yang baik yang semestinya dilakukan oleh seorang mahasiswa/i. hal tersebut sudah biasa di lakukan mereka yang menghalalkan segala cara agar dapat masuk absen tanpa kehadiran mereka yang sesungguhnya.
Teman terdekatku di kampus adalah teman yang dulu satu SMA ,hanya kebetulan saja kita satu kelas semasa kuliah ini. Dalam tanda kutip “ya nggak deket-deket bangetlah yang lain juga pada deket tapi lebih akrab sama dia” sebut saja namanya Delia , dan namaku sendiri Kalista.
Suatu hari waktu siang itu saya ada kuliah siang kira-kira jam 09:30. Dan seperti biasanya saya tidak pernah telat untuk masuk kelas, tapi teman saya yang satu ini hamper tiada hari tanpa telat “Telat lagi ,telat lagi neng” gerutuku menyambutnya masuk kelas ,dan dia hanya menjawab “iyah aku kesiangan”  dan alasan itu tidak asing di telingaku karena memang setiap dia telat masuk,alasan yang dia katakan ya alasan “kesiangan” itu. Belajarpun di mulai dan seperti biasa dikelas hanya beberapa mahasiswa/i saja hadir dalam mata kuliah tersebut. Sampai giliran aku dan Delia absen, “absen penuh tapi kok yang datang sedikit ya?” tanyaku pada Delia. Dan kemudian Delia menjawab sambil memperhatikan absen “ah biasa paling juga banyak yang menitip tanda tangan” .
Hari berganti dan sampai tiba saatnya entah ada setan mana yang membisikanku untuk mengadu kecurangan tersebut kepada dosen. Bukan karena saya benci kepada teman-teman yang curang, itu semua agar kampus ini terkenal dengan kejujurannya, dan meluluskan mahasiswa/i yang berkualitas,karena mahasiswa adalah penerus bangsa, jadi saya sedikit bermimpi suatu saat nanti Negara Indonesia ini menjadi Negara yang melahirkan penerus bangsa yang cinta akan kedamaian,dan kejujuran . huhf,, kayaknya saya hanya bermimpi yang mimpi itu tak akan mungkin terwujud kecuali atas kesadaran dari masyarakat dan atas kuasa Allah SWT. Yups kembali lagi kejalan yang benar.. hehe  ya saya nggak tau ada setan mana tu yang membisikanku untuk mengadu ke dosen, sampai sampai ada yang mendengar dan mengadu lagi kepada mahasiswa yang menitip tanda tangan. Ujung-ujungnya jadi masalah deh, dan aku di benci sekelas karena masalah aku bilang ke dosen tentang kecurangan mereka. Hehe aku jail juga ya, tapi kalau difikir-fikir aku salah ga ya? Emang sehh ada yang bilang kalau ‘usil banget ngurusin hidup orang’ tapi kalau aku fikir –fikir benar juga seh. Kenapa aku bilang ke dosen segala tentang kecurangan mereka, itu kan urusan mereka. Huuuuhhh tapii masalahnya aku peduli mereka dan nasib bangsa ini. Mahasiswa kan penerus bangsa, masa baru jadi mahasiswa saja sudah curang seh , gimana mereka mempertanggung jawabkan nama kemahasiswaan mereka sebagai penerus bangsa ini kepada masyarakat???? Why..?? gimana tuh?haha
Tapi ga papa lah aku dibenci sama mereka ,yang pentingkan aku tidak pernah melukai mereka, Cuma bikin mereka kesal saja.haha tapi suatu saat mereka juga sadar, entah 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi, mereka malah berterima kasih ke saya karena sudah menyadarkan mereka bahwa kecurangan tersebut berdampak buruk, haha [pede amat she gue] haha ya mungkin mereka belum dewasa [emangnya gue udah tua] hehe
Tidak seperti itu kok, mungkin para pembaca juga pasti menyalahkan saya, haha [ga boleh su’udzon ahh]   bersambung….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar